Tugas Akhir Program S1 PGSD - Universitas Terbuka


 Judul : KASUS PENANGANAN ANAK YANG MEMPUNYAI 
             KETERBELAKANGAN MENTALDI SEKOLAH REGULER

Bagi temen-temen yang masih menempuh kuliah di UT jurusan S1 PGSD  berikut saya akan berbagi tentang Tugas Akhir Pgrogram yang saya buat pada semester 10. Tugas ini bisa menjadi referensi bagaimana membuat laporan sebuah studi kasus yang terjadi di sekolah masing-masing. Pada studi kasus dibawah ini sudah mendapat persetujuan serta mendapat nilai "A".

Dengan contoh studi kasush ini semoga menambah pengetahuan  serta tambahan referensi bagi Mahasiswa Universitas Terbuka S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar khususnya semester 10 yang sedang mengerjakan Tugas Akhir Tahun. Apabila membutuhkan arsip silahkan tulis pesan chatbox atau bisa melalui kontak yang tersedia.

Baca Juga - Contoh Laporan PKP S1 PGSD  - UT

Tugas Akhir Program (TAP) S1 PGSD


Kasus Pennangan Anak Yang Mempunyai Keterbelakangan Mental di Sekolah Reguler

Didunia ini tidak ada satupun orang tua yang ingin mempunyai buah hati yang memiliki keterbelakangan mental/ cacat mental yaitu mempunyai IQ di bawah normal. Pada dasarnya mereka ingin putra putrinya lahir dan tumbuh sehat baik jasmani maupun rohani. Suatu anugerah dan menjadi kebanggaan orang tua apabila mempunyai buah hati sehat dan mempunyai predikat cerdas bahkan jenius. Hal ini  terjadi pada pasangan bapak Solikin dan ibu Etin mereka mempunyai putra berinisial RB yang menderita keterbelakangan mental dan sekarang duduk di kelas III SDN 2 Tamanagung.


Seharusnya RB disekolahkan di sekolah khusus, namun pihak orang tuanya tetap menyekolahkannya di sekolah regular (SDN 2 Tamanagung). Hal ini karena RB berasal dari keluarga yang tidak mampu  dan SLB terdekat ada di SDLB Tamanagung  kecamatan Cluring kota Banyuwangi  dengan jarak tempuh sekitar 500 m dari SDN 2 Tamanagung Tamanagung. Selain itu keterbatasan waktu juga rasa gengsi dan malu apabila RB bersekolah di SLB merupakan kendala bagi orang tua RB untuk menyekolahkan di SLB tersebut.


Dari 24 orang siswa kelas III SDN 2 Tamanagung, hanya RB yang mengalami keterbelakangan mental. RB memiliki tingkat IQ dibawah 70. Hal ini telah dibuktikan dari tes IQ yang pernah dilakukan oleh pihak sekolah. Tes yang dilakukan adalah WISC(R) – Weschsler Intelligence Scale for Children (Revised). Tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan anak, tes ini mengukur kemampuan-kemampuan seperti pemahaman, pembendaharaan kata, berhitung, penalaran, dan ingatan.


Jika dilihat secara fisik RB mempunyai kemampuan menggerakkan badan dan anggota badannya dengan  normal, tetapi koordinasi, kemampuan berbahasa dan sosialnya terhambat. Selain itu RB seringkali bertingkah diluar kewajaran anak-anak seusianya yang sulit dikendalikan oleh siapapun, tidak jarang dia berteriak histeris apabila mendapatkan permasalahan, misalnya bila ada tugas yang tidak mampu dia kerjakan. Bahkan hampir tiap hari RB buang air kecil di celana, dan mengganggu teman-teman lainya pada saat pembelajaran berlangsung. Permasalahan inilah yang perlu diselesaikan bagi tenaga pengajar di kelas III SDN 2 Tamanagung.

Identifikasi masalah

  1.  Dari 24 orang siswa kelas III SDN 2 Tamanagung, hanya RB yang terindentifikasi mengalami keterbelakangan mental.
  2. RB mempunyai kemampuan menggerakkan badan dan anggota badannya dengan  normal, tetapi koordinasi, kemampuan berbahasa dan sosialnya terhambat.
  3. RB seringkali bertingkah diluar kewajaran anak-anak seusianya, tidak jarang dia berteriak histeris apabila mendapatkan permasalahan.
  4. RB buang air kecil di celana, dan mengganggu teman-teman lainya pada saat pembelajaran berlangsung.
  5. Orang tua RB tidak akan setuju apabila RB diusulkan untuk melanjutkan sekolah di SLB tentunya dengan alasan ekonomi, waktu dan jarak yang jauh.

Pokok Permasalahan

Berdasarkan berbagai identifikasi permasalahan diatas dapat disimpulkan menjadi beberapa pokok permasalahan, diantaranya adalah :
  1. RB adalah satu-satunya siswa kelas III yang mengalami keterbelakangan mental dan bersekolah di sekolah reguler ( SDN 2 Tamanagung ).
  2. Orang tua RB tidak akan setuju jika RB  diusulkan untuk melanjutkan sekolah di SLB tentunya dengan alasan ekonomi.



Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan pokok permasalahan diatas, maka rumusan masalah yang dapat dikemukakan adalah : 
  1. Bagaimana menangani RB yang memiliki keterbelakangan mental agar tetap dapat melanjutkan sekolahnya ?

Alternatif Pemecahan Masalah

Dalam kategori cacat mental, RB berada dalam kategori cacat mental ringan. Cacat mental ringan disebut juga debil. Kelompok ini memiliki IQ antara 68-52, sedangkan IQ 69-55,  masih bisa belajar membaca, belajar menulis, dan belajar berhitung sederhana. Namun pada umumnya anak cacat mental ringan tidak mampu melakukan penyesuaian sosial secara independen dan anak ini tidak mengalami gangguan fisik. Secara fisik terlihat sepertihalnya  anak normal pada umumnya. Oleh karena itu agak sukar membedakan secara fisik antara anak cacat mental dengan anak normal.


Anak cacat mental ringan banyak yang lancar berbicara tetapi kurang pembendaharaan kata-katanya. Mereka mengalami kesukaran berfikir abstrak, tetapi mereka masih dapat mengikuti pelajaran akademik baik di sekolah biasa maupun di sekolah khusus. Maksudnya, kecerdasan berfikir seseorang cacat mental ringan paling tinggi sama dengan kecerdasan anak normal usia 10 tahun.


Usaha yang seharusnya dilakukan oleh pihak sekolah diantaranya adalah :
Berkomunikasi dengan pihak orang tua untuk menyarankan agar RB dipindahkan sekolah ke SLB.
  • Pihak Sekolah tentunya menunjuk guru senior dan berpengalaman yang profesional mendatangi rumah orang tua RB dan memberitahukan dengan bijak tentang dampak positif dan kemajuan yang akan didapat RB jika sekolah di SLB.
  • Mengajak orang tua RB ke sekolah SLB terdekat untuk berkonsultasi mengenai biaya, metode pembelajaran dan hasil yang akan di capai RB.
  • Memberikan penegasan saran yang terbaik untuk orang tua RB, bahwa SLB adalah wadah pendidikan terbaik untuk RB.

Sekolah memperlakukan RB secara khusus
  • Memberikan kelas khusus/ ruangan khusus pada saat pembelajaran berlangsung.
  • Memberikan materi yang berbeda dengan siswa lain sesuai dengan kemampuan RB.
  • Pada mata pelajaran olah raga dan keterampilan/ seni RB bergabung dengan teman satu kelasnya.

Baca Juga -  Kumpulan Penelitian Tindakan Kelas Bagian Ke 4


Analisis Alternatif Pemecahan Masalah

1.   Kekuatan
  • Berkomunikasi dengan pihak orang tua untuk menyarankan agar RB dipindahkan sekolah ke SLB.

Berkomunikasi dan berkonsultasi dengan pihak orang tua siswa sangat baik dilakukan dalam rangka bersama-sama untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak didik. Tidak jarang ditemukan solusi-solusi baru saat kita sharing dengan para orang tua siswa. Pihak orang tua menjadi mengetahui kendala yang dihadapi anak-anaknya dalam menuntut ilmu. Dan orang tua memahami apa yang dibutuhkan dan yang terbaik buat anaknya.
  • Sekolah memperlakukan RB secara khusus

Dengan memperlakukan RB secara khusus diharapkan RB lebih mudah memahami pelajaran, selain itu RB tidak lagi mengganggu teman-temannya yang lain. Pada mata pelajaran yang ringan RB kembali bergabung bersama teman sekelasnya agar tidak merasa terasing dan dikucilkan. Perlakuan guru secara khusus akan membantu RB agar tidak terlalu jauh ketinggalan dalam mengikuti semua pembelajaran.


2.    Kelemahan
  • Berkomunikasi dengan pihak orang tua untuk menyarankan agar RB dipindahkan sekolah ke SLB.

Sudah sering kali pihak sekolah menyarankan agar RB dipindahkan ke SLB, akan tetapi pihak orang tuanya tetap menolak, dengan alasan biaya yang tidak ada. Malahan pihak orang tua menyarankan agar RB berhenti dari sekolah. Semakin sering pihak sekolah berkonsultasi dengan pihak orang tua, justru pihak orang tua malah merasa jengah dan hampir saja mengambil keputusan yang salah, yaitu melarang RB untuk masuk sekolah.
  • Sekolah memperlakukan RB secara khusus

Alternatif lain yang dilakukan sekolah adalah memperlakukan RB secara khusus. RB ditempatkan di kelas khusus terpisah dengan teman-temannya yang lain. Cara guru dalam mengajar RB juga berbeda ketika mengajar anak yang lain, perhatian yang lebih dan ketelatenan yang ditingkatkan. Namun justru RB merasa kesepian dan terus memaksa untuk tetap belajar bersama dengan teman-temannya yang lain. Apabila ditolak RB sering mengamuk dengan berteriak histeris.Dalam hal ini benar-benar dibutuhkan guru yang mampu menyelami psikologis RB dan di butuhkan kesabaran yang lebih.


Alterntif Pemecahan Masalah
Berdasarkan semua permasalahan diatas, alternatif yang dianggap paling efektif adalah
  1. Memperlakukan RB secara khusus. Perlakuan secara khusus ini dapat dilakukan dengan menyediakan ruang khusus bagi siswa-siswa yang mengalami keterbelakangan mental maupun fisik. Selain itu dapat pula mendatangkan atau mengutus beberapa guru untuk mengikuti pelatihan guru inklusi. Yaitu pelatihan tentang bagaimana menangani anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental.
  2. Dengan memperlakukan RB secara khusus, guru dapat lebih mengerti keinginan dan perilaku RB yang menyimpang. Dengan demikian guru akan lebih mudah mengatasi keterbelakangan yang dimiliki RB.

Demikian contoh Tugas Akhir Program S1 PGSD - Universitas Terbuka yang pernah saya buat semoga bisa menjadi referensi.
Karena Pekerjaan Saya jasa Pengetikan ada Banyak Berbagai Tugas Sekolah yang mungkin bermanfaat silahkan Request saja melalui kontak atau Chatbox.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel